Berita Terkini

CumaGamer.com

Terbaru

Berita

Artikel

Unik

Daftar Terbaik

Game Terfavorit

Sunday, April 1, 2018

Di Seri ke-4, Valkyria Chronicles Kembali ke Layar Besar



Sempat eksis di konsol portabel, serial fantasi Valkyria Chronicles kini kembali lagi ke layar besar televisi lewat seri keempatnya. Simak ulasan Radix dari Zetizen yang dikutip CumaGamer.com berikut ini:

PADA 2008, PlayStation3 adalah mesin game tercanggih. Tapi, popularitas mesin buatan Sony tersebut kalah telak dari Nintendo Wii yang lebih mengandalkan inovasi sistem permainan ketimbang performa audiovisual. Angka penjualan PlayStation3 sama sekali tidak buruk. Tapi, mesin itu butuh game yang mendayagunakan kecanggihan teknologi sekaligus menyuguhkan konsep permainan yang baru. Sega pun turun tangan lewat Valkyria Chronicles.


Sekilas, Valkyria Chronicles tampak seperti kebanyakan action game 3D bertema perang. Tapi, sebenarnya game tersebut adalah sebuah RPG strategi, satu genre dengan Final Fantasy Tactics dan serial Super Robot Taisen. Sega menampilkan adegan pertempuran layaknya genre action atau shooting 3D. Dalam setiap aksi, para karakter bergerak secara dinamis ke berbagai penjuru medan tempur.

Sega mengandalkan Canvas Engine buatan sendiri yang hasilnya bagaikan lukisan pensil warna yang teranimasi. Para karakternya didesain bergaya anime. Ceritanya mirip kisah Perang Dunia II di wilayah Eropa yang meliputi medan perkotaan dan alam bebas. Dilengkapi pula sistem permainan rancangan para personel yang berpengalaman dalam Eternal Arcadia dan serial Sakura Taisen.

Valkyria Chronicles sukses membuat para pemilik Wii iri kepada para pemilik PlayStation3. Game itu laris di pasaran serta mengatrol penjualan mesinnya. Penghargaan dari para kritikus pun berdatangan. Sekali lagi, Sega mempersembahkan serial baru yang brilian. Namun, dua sekuel utama Valkyria Chronicles lantas hanya hadir untuk mesin portabel. Tetap bagus, tapi layar portabel yang mungil terasa kurang memuaskan.


Baru pekan lalu, 21 Maret 2018 Sega akhirnya mengembalikan serial Valkyria Chronicles ke layar besar. Mediumnya adalah PlayStation4, mesin tercanggih saat ini. Segala formula yang membuat seri pertama sukses diterapkan lagi. Tak terkecuali kiprah Hitoshi Sakimoto, maestro yang juga menggubah musik game sekaliber Final Fantasy Tactics dan Odin Sphere.

Kisah latar Valkyria Chronicles 4 paralel dengan seri pertama. Selagi negeri Gallia –pihak protagonis seri pertama– sedang berjuang, Federasi Atlantik menjalani peperangan besar melawan Empirium Aliansi Eropa Timur yang digdaya. Pemerintah federasi mengutus unit kecil di bawah komando Claude Wallace untuk ikut melancarkan operasi ofensif ke ibu kota empirium. Misi yang nyaris mustahil. Apalagi, empirium punya sejumlah prajurit berkekuatan supranatural yang disebut valkyria. Sebagaimana ditunjukkan sejak seri pertama, seorang valkyria sanggup mengobrak-abrik pasukan tank sendirian.

Perang garis depan timur itu berlokasi di daerah bersalju. Secara visual, efek salju adalah tantangan baru bagi Canvas Engine. Dari segi permainan, salju juga memengaruhi berbagai aspek permainan. Langkah prajurit infanteri dan gerakan tank bakal berbeda di tanah yang tertutup salju. Mengenai sistem permainan, Sega memperkenalkan sejumlah fitur baru lainnya. Misalnya, prajurit tipe pelontar granat.

Oh ya, sebagian orang mungkin lebih suka memainkan serial tersebut di mesin portabel karena tak terbatas tempat. Tahun ini Valkyria Chronicles 4 juga hadir untuk mesin Nintendo Switch. Artinya, pemain bebas memilih akan menikmatinya di depan layar televisi ataukah membawanya ke mana-mana. (c14/ray)


Kiprah di Mesin Portabel

JIKA Valkyria Chronicles seri pertama membantu PlayStation3 memberikan perlawanan kepada Wii, sekuelnya melakukan hal serupa di ranah portabel. Valkyria Chronicles 2 dirilis pada 2010 ketika PlayStation Portable (PSP) sedang dipecundangi habis-habisan oleh Nintendo DS. Padahal, sebagaimana PlayStation3, teknologi PSP unggul signifikan.


Bagi Sega, tak banyak pilihan memang. Program Canvas Engine sudah dibuat lebih simpel agar bisa berfungsi di layar mungil. Tapi, DS tak cukup mampu. Opsinya tinggal PSP. Perubahan medium dari home system ke portabel cukup berisiko. Karena itulah, mungkin cerita yang ditampilkan dalam game-nya tak terlalu berkaitan. Berlatar dua tahun setelah akhir perang di seri pertama, pasukan protagonis melawan kelompok yang melakukan pembantaian etnis.

Tapi, Sega cepat belajar. Begitu pemrograman dikuasai, mereka segera menyiapkan seri ketiga. Hadirlah Valkyria Chronicles 3 pada awal 2011, sekali lagi untuk PSP. Kali ini cerita kembali tentang Gallia melawan empirium. Protagonisnya adalah unit kecil Gallia yang dapat tugas kotor. Unsur politik makin kental di seri ini. Seri kedua dan ketiga terjual lumayan, cukup menolong PSP.

Berikutnya, Sega membawa serial ini ke PlayStation4, Xbox One, dan PS Vita sekaligus. Judulnya Valkyria: Azure Revolution yang diluncurkan awal tahun lalu. Ini merupakan seri sampingan dengan latar negeri Jutland yang minim kaitan dengan konflik seri-seri lainnya. Unsur strateginya tergeser oleh aksi berpedang sebagaimana kebanyakan action game 3D. Lebih parah lagi, Canvas Engine tak lagi digunakan.

Singkat cerita, seri sampingan ini tak sukses. Tapi, Sega mengevaluasi kegagalan tersebut untuk merancang Valkyria Chronicles 4. (c14/ray)


Sega Gudangnya Serial

DALAM industri game, ketika suatu game sukses, produsen bakal mempertimbangkan sekuelnya. Menggunakan formula serupa, sekuel bisa lebih mudah dibuat dengan kemungkinan sukses yang besar pula. Karena itulah, industri game mengenal banyak serial game. Sega melakukan langkah yang sama, tapi dengan nasib yang agak unik.


Ada saja masalah yang dialami Sega saat menggarap sekuel. Yang paling sering terjadi, sekuel kesekian kalah kualitas jika dibandingkan dengan pendahulunya. Karena itulah, Sega nyaris tak punya serial yang berumur panjang. Bahkan, ikon maskot sekaliber Sonic the Hedgehog memiliki banyak seri yang kurang bagus. Serial Shining sampai harus ganti genre beberapa kali.

Tapi, dari segi positifnya, Sega punya banyak serial ternama. Sega mempunyai keahlian merancang serial dari awal meski kadang nanti sulit mengembangkan secara layak. Yang patut diambil pelajaran, Sega gigih dalam jatuh dan bangun. Mereka pernah merajai arcade pada dekade 1980-an zaman Space Harrier. Lalu, mereka mampu bersaing ketat dengan Nintendo pada zaman mesin Sega Mega Drive. Setelah itu, Sega sempat jatuh dan berhenti dari bisnis mesin game. Kini mereka menjalani perannya sebagai produsen game papan atas yang dikenal dengan sangat banyak koleksi serialnya, termasuk Valkyria Chronicles. (c14/ray)

Sumber: Zetizen JPNN

No comments:

Post a Comment

Designed By