Berita Terkini

CumaGamer.com

Terbaru

Berita

Artikel

Unik

Daftar Terbaik

Game Terfavorit

Tuesday, March 6, 2018

Metal Gear Survive yang Gagal Survive



Banyak gamer dikejutkan dengan kemunculan serial baru dalam waralaba Metal Gear yang memiliki konsep jauh berbeda dibandingkan ciri khas serial ini. Metal Gear Survive nyatanya akan lebih baik bila tidak diberi embel-embel serial stealth action berbumbu politik dari Konami ini. Berikut ulasan Metal Gear Survive yang ditulis oleh Radix WP dari Zetizen.

SERIAL Metal Gear selama ini selalu menempati kelas tersendiri yang istimewa. Semacam wagyu dalam dunia kuliner daging sapi atau seperti Burj Al Arab dalam dunia perhotelan. Setiap seri utamanya menyuguhkan konsep permainan yang inovatif dan kompleks, cerita selevel novel spionase papan atas, serta sentuhan humor yang khas. Sejumlah serial lain mencoba menirunya. Misalnya, Tenchu, Syphon Filter, Splinter Cell, dan Assassins Creed. Tapi, tak satu pun yang mampu jadi kompetitor serius bagi Metal Gear.

Sedari awal, serial Metal Gear bergantung kepada Hideo Kojima sebagai perancang konsepnya. Berbagai unsur politik, sains, dan filosofi berasal darinya. Sosok Kojima-sensei yang kharismatis bersimbiosis dengan Konami sebagai perusahaan induk selama 20-an tahun. Tapi, situasi berubah pada 2015. Ketika itu, bisnis video game terguncang oleh krisis ekonomi global serta persaingan dengan game ponsel.

Dari stealth action berbumbu politik, Metal Gear bertransformasi menjadi game survival.
Petinggi Konami memutuskan fokus pada bisnis game ponsel dan mesin slot (semacam judi berhadiah barang). Pendanaan proyek game papan atas dihentikan. Serial Silent Hill jadi korban pertama. Padahal, saat itu para penggemar antusias menantikan seri terbarunya yang diawaki Hideo Kojima –untuk kali pertama– dan sutradara kenamaan Guillermo del Toro. Penghentian proyek tersebut disusul konflik antara Konami dengan Kojima Production, divisi penggarap serial Metal Gear.

Singkat cerita, Hideo Kojima hengkang dari Konami atau mungkin ditekan untuk keluar. Karena status selebritinya, masyarakat penggemar game cenderung berpihak kepada Kojima-sensei. Konami pun jadi tertantang untuk membuktikan bahwa mereka mampu melanjutkan serial Metal Gear tanpa sang kreator. Maka, dibuatlah Metal Gear Survive yang dirilis pekan silam.

Konsep dasar Metal Gear Survive terasa janggal. Protagonisnya adalah sekelompok prajurit yang terseret ke dimensi lain, tempat para wanderer (semacam zombie) berkeliaran. Nuansa penyusupan infanteri digantikan perjuangan bertahan hidup dari serbuan para wanderer. Para protagonis membuat markas darurat untuk menyiapkan aneka perbekalan dan senjata. Unsur politik, sains, apalagi filosofi, ditampilkan sangat minimal jika dibandingkan dengan seri Metal Gear lainnya.

Di luar konsep yang berubah drastis, Metal Gear Survive bukanlah game yang buruk.
Apakah Metal Gear Survive sebuah game yang buruk? Sama sekali tidak. Game itu layak bersaing dengan para jagoan genre survival di medium PC seperti DayZ dan Rust. Membuat aneka senjata serta menggiring para wanderer ke jebakan cukup mengasyikkan. Fitur multiplayer-nya tergarap rapi. Game tersebut juga disertai fulton cannon dan walker gear sebagai usaha memberikan nuansa serial Metal Gear. Game itu seharusnya jadi sebuah survival game yang cukup memuaskan seandainya tidak diberi label ’’metal gear’’.

Ambisi mengeruk duit terlalu kentara dalam proyek Metal Gear Survival tersebut. Biaya pembuatannya sangat murah jika dibandingkan dengan seri Metal Gear lainnya karena banyak mendaur ulang seri Metal Gear Solid V: Phantom Pain. Di dalam game-nya, pemain sering dipaksa membayar ekstra, termasuk untuk slot penyimpanan data karakter kedua. Saking takutnya, pemain mencurangi data untuk dapat fitur tanpa membayar. Game itu mengharuskan akses internet di sepanjang permainan.

Tak heran, angka penjualan Metal Gear Survive jeblok, bahkan kalah jauh jika dibandingkan dengan seri-seri sampingan Metal Gear terdahulu. Jika begitu caranya, serial Metal Gear memang berakhir seiring hengkangnya Hideo Kojima. (c22/ray)

Sumber: Zetizen JPNN

No comments:

Post a Comment

Designed By