Berita Terkini

CumaGamer.com

Terbaru

Berita

Artikel

Unik

Daftar Terbaik

Game Terfavorit

Wednesday, December 20, 2017

Asa Si Landak Biru dalam Dua Game Beruntun

Sonic Mania
Sebagaimana Super Mario, Sonic the Hedgehog merupakan serial game klasik yang masih tetap bertahan hingga masa kekinian. Walaupun tidak sesukses rival Nintendonya tersebut, Sonic masih cukup bertahan dengan Sega terus berusaha menghidupkannya. 
 
Tahun 2017 ini sendiri menjadi tahun yang sibuk untuk Sonic, hadir dalam dua game baru masing-masing Sonic Mania dan Sonic Forces. Bagaimana kisahnya di 2017 ini? Simak tulisan dari Radix WP yang CumaGamer cuplik dari Zetizen JPNN berikut ini.

SEGA sibuk setahun belakangan ini. Mereka sedang merayakan seperempat abad Sonic the Hedgehog, maskot Sega. Yang paling pantas sebagai penanda momen istimewa itu tentu saja merilis game dengan kualitas bagus. Hasilnya adalah Sonic Mania dan Sonic Forces, dua game sekaligus yang sangat berbeda.

Kita mundur sejenak ke 1991. Ketika itu Sega memasarkan Mega Drive, mesin game 16-bit andalan mereka. Kompetitornya adalah Super Famicom buatan Nintendo. Pada era sebelumnya, mesin Famicom berhasil mengungguli mesin Sega Master System. Kali ini Sega tidak mau kalah lagi.

Salah satu andalan Nintendo adalah Mario, maskot mereka. Sega merasa perlu punya maskot yang keren. Lahirlah Sonic, landak biru berkecepatan tinggi. Game debutnya, Sonic the Hedgehog, mampu menandingi seri Super Mario World sekaligus mengantar Mega Drive menjadi mesin paling sukses Sega.

Sayangnya, kejayaan Sonic tidak seawet Mario. Setelah era 16-bit berakhir, grafis 3D mulai marak. Nintendo dan Sega sama-sama gamang membawa maskot masing-masing ke teknologi visual baru tersebut. Namun, Nintendo masih punya mesin portabel yang bisa diandalkan. Sebaliknya, Sega tidak punya.
Sonic Adventure tak terlalu berhasil menampilkan elemen kecepatan.
Mario lebih dulu tampil di medan 3D lewat Super Mario 64. Sonic menyusulnya dua tahun kemudian dengan merilis Sonic Adventure. Jika dibandingkan, Super Mario 64 lebih mengena karena sangat kreatif. Sonic Adventure tidak terlalu berhasil menampilkan aksi kecepatan tinggi andalannya.

Perkembangan berikutnya, Sega berhenti membuat mesin game. Mereka berfokus membikin game, termasuk untuk dirilis di mesin buatan Nintendo. Ironisnya, keputusan itu justru memberikan peluang bagi Sonic. Sega membikin tiga seri Sonic Advance di mesin portabel Game Boy Advance milik Nintendo yang disambut baik oleh pasar. Faktor utamanya, game tersebut mengembalikan Sonic ke grafis 2D.

Selanjutnya, Sega berkali-kali membuat Sonic versi 3D di mesin-mesin game rumahan. Diselingi dengan sejumlah seri Sonic bergrafis 2D di mesin-mesin portabel. Sonic tidak pernah berhasil menyaingi Mario. Namun, setidaknya Sonic tetap eksis dan menjadi penyambung hidup Sega di bisnis video game.

Tahun ini Sega merilis Sonic Mania yang menghadirkan kembali sensasi permainan 2D sebagaimana pada era Mega Drive dulu. Sonic Mania terhitung sukses, dipuji para veteran, sekaligus cukup menarik bagi para pemain game masa kini. Serunya, kisah Sonic Mania diteruskan dalam Sonic Forces yang didesain jauh lebih epik.

Sonic Forces
Sonic Forces dirilis dua bulan kemudian. Dalam satu petualangan panjang, ada tiga macam segmen. Pertama, aksi Sonic ala seri-seri 3D. Kedua, segmen Sonic 2D dengan grafis poligon, serupa dengan segmen 2D dalam Super Mario Odyssey. Ketiga, tampilnya karakter orisinal yang leluasa dirancang sendiri oleh pemain. Konsep yang cukup menjanjikan, bukan?

Bila dibandingkan dengan semua seri Sonic 3D terdahulu, Sonic Forces adalah yang terbaik. Sayangnya, segmen Sonic 2D dan karakter orisinalnya kurang tergali. Jika harus bersaing dengan Super Mario Odyssey, Sonic Forces jelas kalah telak. Bahkan, angka penjualan Sonic Forces kalah signifikan jika dibandingkan dengan Sonic Mania yang biaya pembuatannya jauh lebih rendah.
 
Tampaknya ini saat reorientasi bagi Sega dalam menangani serial Sonic the Hedgehog. Selama dua dekade ini, Sonic 2D lebih disukai ketimbang versi 3D. Sega perlu berfokus ke situ, apalagi mengingat game 2D lebih mudah dan murah dibuatnya. Sega tidak lantas berhenti membuat Sonic bergrafis 3D, tetapi frekuensinya perlu dikurangi. Toh, Nintendo juga membuat jauh lebih banyak Mario dalam versi 2D ketimbang versi 3D.  (cg)
 
*Ditulis oleh Radix WP  dari Zetizen JPNN

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Designed By