Berita Terkini

CumaGamer.com

Terbaru

Berita

Artikel

Unik

Daftar Terbaik

Game Terfavorit

Thursday, August 3, 2017

The Zodiac Age, Rupa Baru Final Fantasy XII

Petualangan Vaan dalam Final Fantasy XII kini dapat dirasakan para pemilik PlayStation 4. Bukan sekadar remake, The Zodiac Age menawarkan tambahan gameplay dan keindahan artistik yang mampu menyaingi Final Fantasy XV.

SERI Final Fantasy XV sudah delapan bulan beredar. Angka penjualannya lebih dari cukup untuk menutup biaya sangat besar yang dikeluarkan Square Enix dalam pembuatan dan pemasarannya. Tapi, penilaian para penggemar terbelah. Sebagian menyukainya, terutama para penggemar baru. Sebagian lagi menganggap seri tersebut terlalu meninggalkan pakem Final Fantasy.

Sebagai hiburan bagi mereka, Square Enix merilis World of Final Fantasy. Sama sekali tidak buruk, tapi tetap terasa seperti seri sampingan yang kurang diprioritaskan. Beda dengan FF XV yang terus dibuatkan update barunya. Misalnya, Episode Gladiolus dan Episode Prompto. Tapi, sekarang ada satu alternatif lagi, yaitu Final Fantasy XII: The Zodiac Age yang rilis 11 Juli kemarin.


Game itu tidaklah baru, melainkan pembuatan ulang dari Final Fantasy XII yang hadir untuk mesin PlayStation 2 pada 2006. Square Enix mengadaptasi versi update FF XII: International Zodiac Job System yang berisi cukup banyak tambahan unsur permainan. Performa grafisnya dirombak ulang agar sesuai dengan standar mesin PlayStation 4.


Keputusan yang jitu. FF XII yang berumur sebelas tahun adalah lawan sepadan bagi FF XV. Keduanya sama-sama menampilkan konflik antarnegara dan intrik domestiknya, ditambah kehadiran makhluk-makhluk supranatural. Kini, dengan grafis yang diperbarui, FF XII: The Zodiac Age tak bisa dibilang ketinggalan zaman. Jika FF XV tampak seperti foto yang realistis, FF XII versi baru tersebut bagaikan lukisan yang sangat artistik.

FF XII berlatar dunia Ivalice sebagaimana juga diterapkan dalam Vagrant Story dan serial Final Fantasy Tactics. Di sana manusia hidup berdampingan dengan berbagai ras lain. Misalnya, Viera yang jangkung dan berkuping kelinci atau Seeq yang mirip ikan hiu berjalan. Ketika itu terjadi konflik antara dua negara adikuasa, Archadia dan Rozzaria. Negara-negara kecil di sekitarnya pun terkena getah.


Empirium Archadia menginvasi Dalmasca, salah satu negara kecil. Putri Ashe membentuk pasukan perlawanan. Dia bersekutu dengan pasangan petualang muda yang bercita-cita menjadi bajak angkasa. Ada juga pasangan bajak angkasa yang lebih senior.

Hadir pula mantan kesatria Dalmasca yang namanya tercemar karena suatu hal. Selanjutnya, di pihak Archadia, ada pangeran yang ambisius serta pasukan elite yang mirip Jenderal Glauca dari film layar lebar Kingsglaive: FF XV.

Sistem pertempuran FF XII: The Zodiac Age seperti RPG pada umumnya, tidak seperti FF XV yang lebih mirip serial Tales milik Namco Bandai. FF XII dulu berinovasi dengan sistem Gambit untuk mengatur pertempuran otomatis yang kemudian ditiru berbagai RPG lain. Kini seri ke-12 tersebut mengingatkan para penggemar bahwa serial Final Fantasy lebih dari sekadar ’’kelompok boyband yang diberi kisah petualangan’’.

ADA APA SETELAH FF XII?

Dalam FF XII, tokoh sentralnya adalah Vaan dan Penelo, pasangan petualang muda. Tapi, di tengah intrik yang kompleks, keduanya seakan tenggelam oleh para karakter lainnya yang lebih terikat dengan cerita latar. Square Enix kemudian memperdalam kisah Vaan dan Penelo dalam FF XII: Revenant Wings yang dirilis setahun setelah FF XII.


Meski kisahnya merupakan kelanjutan FF XII, Square Enix tidak menyebut Revenant Wings sebagai sekuel. Mesin yang digunakan beralih dari PlayStation 2 ke mesin portabel Nintendo DS. Kualitas grafisnya jauh lebih simpel, serupa dengan FF Tactics. Genrenya pun berubah jadi RTS (real time strategy).

Dikisahkah, Vaan menjadi bajak angkasa dan punya kapal angkasa. Bersama Penelo, dia menjalani petualangan panjang hingga ke pulau-pulau terapung yang dihuni ras bersayap. Pertempuran dalam game tersebut menggunakan stylus di layar sentuh mesin DS.

Sebenarnya masih ada satu lagi game yang terkait dengan FF XII, yaitu FF Fortress. Ketika itu Square Enix mencoba bekerja sama dengan Grin, perusahaan Swedia. Tapi, di tengah proyek terjadi konflik. Game-nya dianggap kurang bernuansa Final Fantasy. Proyek bubar, bahkan Grin sampai bangkrut. Kini para personel Grin bernaung dalam Overkill Software yang melahirkan serial FPS berjudul Payday. (cg)

Sumber: JPNN
Sumber gambar: ebgames, dualshockers, destructoid

No comments:

Post a Comment

Designed By