Berita Terkini

CumaGamer.com

Terbaru

Berita

Artikel

Unik

Daftar Terbaik

Game Terfavorit

Thursday, December 8, 2016

Menengok Seri Ke-15 yang Tidak Biasa


SETELAH penantian sangat lama, bahkan sempat ganti judul, akhirnya Final Fantasy XV dirilis. Diumumkan kali pertama pada 2006, game itu awalnya berjudul Final Fantasy versus XIII dan dikonsep bersamaan dengan seri Final Fantasy XIIIGame tersebut kemudian dijadikan seri utama dan diberi nomor 15 seiring dengan konsep dasarnya yang diperbarui.
Bagi Square Enix, Final Fantasy XV merupakan pertaruhan besar. Sebagai seri utama, game itu dibiayai sangat besar. Targetnya tentu saja menjadi RPG terkemuka pada zamannya. Misi tersebut tak pernah mudah. Biasanya, RPG papan atas lain selalu membayangi, termasuk buatan Square Enix seperti Dragon Quest. Kini serial Tales dan serial Atelier yang semula masih papan tengah sudah cukup mapan dan tak boleh diremehkan. Tantangan lain adalah krisis ekonomi global yang belum cukup pulih, serta persaingan dengan ponsel dan tablet yang performa visualnya makin bagus.
Bagaimana strategi Square Enix memastikan bahwa dana besar dan pengerjaan bertahun-tahun yang telah mereka investasikan akan mendorong masyarakat membeli Final Fantasy XV? Yang pertama adalah kualitas grafis yang setingkat game PC dengan spesifikasi tertinggi. Performa visual itu digabungkan dengan eksperimen sehingga seri utama Final Fantasy masuk dalam genre action RPG.

Iya, Final Fantasy XV tak menampilkan pertempuran berbasis giliran seperti biasa. Aksi berlangsung secara real-time sebagaimana yang diterapkan dalam seri Crisis Core: Final Fantasy VII dan Final Fantasy Type-0. Para penggemar serial Zelda no Densetsu (Amerika: The Legend of Zelda) dan Kingdom Hearts pasti familier dengan permainan seperti itu.
Dalam sistem pertempuran yang dinamai Active X Battle tersebut, pemain hanya mengendalikan Noctis, sang karakter utama. Tiga rekannya –Gladiolus, Ignis, dan Prompto– bergerak otomatis meski pemain bisa memberikan instruksi dasar kepada masing-masing. Ada teknik serangan kerja sama, tapi sulit menepis rasa bahwa seri Final Fantasy kali ini tak lagi teamwork seperti seri-seri terdahulu.
Sesekali, ada karakter lain yang membantu dalam pertempuran. Pada dasarnya, Noctis dan ketiga rekannya adalah karakter yang dibawa bertualang dari awal hingga akhir permainan. Final Fantasy XV juga dibuat sangat maskulin. Nyaris tak ada karakter perempuan yang tergolong tangguh. Paling cuma Aranea, kesatria Dragoon dari pihak antagonis Niflheim. Atau Gentiana, pembantu Putri Lunafreya, jika mau digolongkan seperti itu.
Cuplikan gameplay Final Fantasy XV. (gambar: egmnow)
Pengembangan ceritanya kalah kompleks jika dibandingkan dengan seri-seri terdahulu. Hanya tentang seorang pangeran yang mengumpulkan kekuatan untuk duduk di singgasana dan menjemput takdirnya. Antagonis utama mudah ditebak sedari awal, apalagi jika menonton film bioskop Kingsglaive: Final Fantasy XV yang dirilis beberapa bulan sebelumnya.
Para veteran RPG bakal sulit mengenang Lunafreya sebagaimana mengenang Aerith dari seri Final Fantasy VII. Bahkan, pengorbanan Oerba Yun Fang dan Vanille menjadi kristal di akhir Final Fantasy XIII masih lebih berkesan. Karakter seperti Cidney, putri Cid, akan sering diperagakan dalam cosplay. Tapi, Cidney ataupun Iris –adik Gladiolus– sulit membekas di ingatan. Cukup aneh mengingat para karakter perempuan dari serial Final Fantasy biasanya everlasting.
Dengan aneka kekurangan tersebut, apakah Final Fantasy XV bakal gagal? Belum tentu. Strategi menghadirkan film layar lebar Kingsglaive, serta serial anime gratisan Brotherhood: Final Fantasy XV menjadi iklan yang cukup bagus bagi game-nya. Sistem pertempuran yang real-time akan menarik minat para penggemar game PC karena mirip The Elder Scrolls V: Skyrim. Yang harus diperhitungkan adalah Zelda no Densetsu: Breath of the Wild milik Nintendo yang tahun depan hadir dengan konsep serupa.
Dengan grafis premium dan perkenalan kepada masyarakat luas, berarti Square Enix mengincar sebesar-besarnya pasar baru dari kalangan yang awalnya bukan penggemar Final FantasyGood luck. Kalaupun ternyata hasilnya tak memenuhi harapan, yang dipertaruhkan sebenarnya cuma status Final Fantasy sebagai serial andalan. Square Enix masih punya Dragon QuestStar Ocean, dan Valkyrie Profile yang bisa jadi serial andalan tanpa butuh biaya semasif Final Fantasy(c14/ray)

Sumber: Zetizen JPNN

No comments:

Post a Comment

Designed By