Berita Terkini

CumaGamer.com

Terbaru

Berita

Artikel

Unik

Daftar Terbaik

Game Terfavorit

Monday, July 4, 2016

Mighty No. 9: Penantian Panjang yang Mengecewakan

CUMAGAMER SHARE: KISAH GAMER EDISI #6
Mighty No. 9, salah satu game paling ditunggu di tahun 2016 ini di luar dugaan menjadi sebuah game yang mengecewakan. Tony Polanco dari Geek.com, bakal menceritakan pengalamannya memainkan game yang awalnya begitu dinantikannya ini. Simak kisahnya dalam CumaGamer.com’s Share yang sekaligus menjadi review bagi game Mighty No. 9 berikut ini.

Dua dari game terbaik dan paling menyenangkan yang saya mainkan saat menghadiri E3 tahun ini adalah Cuphead dan Bloodstained: Ritual of the Night. Kedua judul ini masing-masing adalah spiritual successor atau penerus spirit dari Contra dan Castlevania: Symphony of the Night. Keduanya berisi banyak elemen yang membuat pendahulu mereka begitu dikenang, namun keduanya juga memperbarui kontennya sehingga cukup untuk membuatnya terasa seperti sebuah game yang modern.

Bagi penggemar game-game lawas nan klasik, Cuphead dan Bloodstained sukses menggoreskan kembali sensasi nostalgia itu. Sepulangnya dari menghadiri acara tersebut, saya hampir lupa kalau saya segera memainkan game yang juga bertipe spiritual successor: Mighty No. 9.

Seperti yang lainnya, saya turut menyumbangkan dana untuk game ini di Kickstarter karena saya dijanjikan sebuah sekuel game Mega Man yang sejauh ini belum juga diproduksi oleh Capcom. Kembali ke tahun 2013, ketika crowdfunding atau penggalangan dana untuk pembuatan game masih relatif baru, dan secara keseluruhan antusiasme untuk judul ini begitu tinggi. Kita tiba di era baru di mana para kreator membuat game-game untuk para penggemarnya secara langsung tanpa membutuhkan kebijakan korporasi dan saya secara total setuju dengan konsep ini. Kami dijanjikan game ini bakal rilis April 2015, dan kami menunggu dengan sabar hingga tanggal itu tiba.

Sayangnya saya mulai merasa kehilangan harapan untuk proyek ini setelah April 2015 tiba namun tidak ada satu pun tanda game ini bakal segera hadir. Kemudian, Deep Silver memutuskan menerbitkan game ini, yang berujung pada penundaan rilis gamenya. Meski begitu kami yakin bahwa peningkatan pendanaan dan tenaga manusia bakal menghasilkan pengalaman yang lebih baik dari yang awalnya direncanakan. Sepertinya memang kami mesti menunggu lebih lama, tapi okelah bila penantian ini untuk hasil yang lebih baik. Karena bagaimanapun, apakah kalian mau game yang jelek sesegera mungkin atau game yang bagus tapi agak lama?

Kesabaran perlahan mulai hilang ketika game ini mengalami beberapa kali penundaan dikarenakan fitur online-nya tidak berfungsi dengan baik. Banyak orang tidak menyumbang untuk bermain multiplayer, kami mengharapkan sebuah pengalaman solo atau single player seperti Mega Man. Multiplayer Cuma salah satu dari tujuan yang diinginkan, jadi para penggemar menerimanya begitu saja. Ditambah semakin banyak orang yang menyadari siklus pengembangan game-game Kickstarter, khususnya penundaan yang tak terhitung, game ini terdorong kembali di setiap pikiran orang. Akan tetapi ketika gamenya akhirnya siap untuk diunduh beberapa hari yang lalu, mayoritas antusiasme itu langsung turun.

Review atau ulasan-ulasan yang mulai muncul di hari Senin hampir semuanya negatif, yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Setelah trailer terakhir untuk gamenya dirilis, seluruh masyarakat internet tampaknya secara kolektif menyadari bahwa game ini terlihat begitu buruk. Rasaya seperti sedang di-troll atau diejek dengan cuplikan dari game PS2 yang hilang, dan tidak ada satu pun concept art indah yang membantu penjualan proyek ini.

Coba bandingkan dua gambar ini, gambar atas adalah concept art sedangkan gambar bawah adalah hasil akhirnya:

Concept art.

Final build.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Sekarang, tidak ada seorang pun yang mengharapkan grafis sebanding dengan, mungkin, The Witcher 3 — ini bukan jenis game seperti itu. Di waktu bersamaan, walaupun game ini dibuat dengan Unreal Engine yang begitu mumpuni, dan ini tidak seperti concept art-nya sulit dibuat oleh developer musiman. Concept art-nya begitu bergaya, bukan masalah grafis. Hasil akhirnya terlihat seperti game ini dikerjakan selama sepekan, bukannya empat tahun sebagaimana durasi proyek ini dibuat. Tentu saja grafis bukan hal utama selama game-nya menarik untuk dimainkan. Karenanyan saya masih mencoba untuk memainkannya, siapa tahu gameplay-nya menawan.

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari ada sesuatu yang sangat salah dengan Mighty No. 9. Tidak seperti Cuphead dan Bloodstained, memainkan game ini terasa begitu membosankan. Ada beberapa jejak DNA Mega Man dalam game ini tentu saja, tapi ini lebih terasa seperti eksperimen kloning yang sangat gagal. Mighty No. 9 direncanakan menjadi seekor harimau besar nan indah, tapi hasilnya justru kucing siam yang kecil dan jelek.

Setidaknya Mighty No. 9 punya daya tarik dari segi gameplay. Ya walaupun tidak menarik banget sih, tapi mungkin cuma itu kelebihannya. Kontrolnya tidak lambat, bidikannya tepat, dan mekanisme platformer-nya ya standar, tapi tidak ada satu pun dari situ yang menyenangkan.

Satu-satunya perasaan positif yang muncul dari game ini adalah sebuah nostalgia, karenanya saya memutuskan membeli Mega Man Legacy Collection ketimbang melanjutkan Mighty No. 9. Ya memang Legacy Collection terlihat ketinggalan zaman dan kontrolnya agak aneh, tapi game ini menakjubkan.

Saya mungkin bukan satu-satunya penggalang dana Mighty No. 9 yang tidak suka dengan keseluruhan pengalaman akhir game ini, kalian bisa menemukan yang lainnya di Google, akan tetapi pengalaman saya dengan Mighty No. 9 terasa begitu busuk sehingga membuat saya memutuskan berhenti mendanai game lainnya, setidaknya untuk saat ini. Ya kalian tahulah semuanya terasa buruk ketika akun Twitter Sonic the Hedgehog, sebuah akun untuk waralaba yang tidak memiliki game bagus selama dua dekade, membuat kalian tampak konyol.

Kalian mungkin tidak pernah tahu mengapa Mighty No. 9 jadinya malah seperti ini. Bila saja bukan karena semua kontroversi yang ditimbulkannya, game ini mungkin akan jadi salah satu yang mudah terlupakan. Akan tetapi, game ini akan terus diingat berkat peluncurannya yang mengecewakan, grafis-grafis yang tidak sesuai dengan harapan, dan gameplay yang membosankan. Tentu ini memalukan bila mengingat apa yang bisa dilakukan game ini.

Mighty No. 9 bukanlah game Mega Man modern yang kita harapkan, tapi ada sebuah pelajaran yang jelas bisa ambil dari semua ini. Para developer atau pengembang yang mencari cara untuk membuat game mereka semestinya melihat apa yang digunakan Bloodstained dan Cuphead sebagai sebuah cara yang benar. Mighty No. 9, setidaknya, akan menjadi semacam peringatan bagi siapa saja yang mencoba menghadirkan sebuah proyek yang didanai Kickstarter. (cg)

*******

TENTANG TOMY POLANCO
Twitter: @Romudeth
Bio singkat: Tony Polanco adalah seorang jurnalis video game dan penulis lepas untuk PCMag dan situs Geek.com. Menyebut dirinya sebagai 'geek polymat' dan 'aspiring superhero', Polanco juga merupakan editor eksekutif di The Koalition, serta pembawa acara Throwdown Podcast.
 
 *****

CUMAGAMER SHARE!!!
Ingin berbagi kisah pengalaman video game seperti ini? Baca petunjuknya di sini.
 

No comments:

Post a Comment

Designed By