Berita Terkini

CumaGamer.com

Terbaru

Berita

Artikel

Unik

Daftar Terbaik

Game Terfavorit

Monday, May 23, 2016

Buta IT Tapi Punya Game Sendiri di PlayStore

CUMAGAMER SHARE: KISAH GAMER EDISI #5

Keinginan yang kuat terkadang bisa menembus segala keterbatasan. Itulah mungkin yang bisa disimpulkan dari sosok Arifal, seorang karyawan akunting yang sukses memiliki game buatannya sendiri di Google PlayStore. Padahal dia buta IT alias sama sekali tidak mengerti bahasa pemrograman komputer. Bagaimana ceritanya? Yuk simak kisahnya secara langsung sebagaimana dikisahkan Arifal dalam CumaGamer.com Share berikut ini!

Ini adalah sebuah cerita nyata dari seorang karyawan akunting perusahaan yang tidak mengerti IT ataupun coding programmer, tetapi punya game keluarga sendiri dan terpampang di Google Store.  Walaupun tidak ada seorang pun yang mengunduh game tersebut, namun sudah menumbuhkan rasa bangga keluarganya.




Nama saya Arifal, saya sudah berkeluarga dan baru saja merantau ke Jakarta dari kampung halaman Kalimantan. Anak dan istri saya diboyong ke Jakarta dan tinggal di salah satu rusun di kawasan Jakarta Pusat dengan total luas ruangannya 32 meter persegi. Ruangan seluas itu sudah termasuk dua kamar tidur, satu kamar keluarga, satu kamar mandi dan balkon. Bisa dibayangkan bukan seluas apa itu? Barang-barang ditumpuk dari lantai hingga plafon di setiap sudut kamar. Anak-anak bisa sekolah, makan tiga kali sehari dan memiliki satu kendaraan roda dua untuk antar jemput di kota jakarta ini sudah dianggap golongan kelas hidup berkecukupan.

Sebelum merantau, saya tinggal dan bekerja melalang buana keluar masuk hutan pedalaman Kalimantan. Hidup seadanya dengan rumah atap daun dan dinding rumah papan susun sirih, tapi itu tidak mempengaruhi suasana keluarga yang bahagia. Berbanding terbalik dengan kondisi perusahaan tempat saya bekerja yang semakin memburuk, ribuan karyawan di-PHK, ratusan peralatan pengeruk tanah dijual. Pada akhirnya tidak dapat ditolak perusahaan pun meminta saya pindah ke Jakarta. Ini merupakan bagian dari program efesiensi biaya operasional pada cabang-cabang perusahaan di Kalimantan.

Memulai hidup di Jakarta bersama anak dan istri dengan pekerjaan hanya sebagai staf akunting, banyak hal yang saya pelajari. Yaitu pelajaran hidup di kota besar atau bisa dikatakan bagaimana caranya orang Jakarta bisa bertahan untuk hidup. Orang-orang menjadi super aktif bekerja, persaingan ada dimana-mana, bahkan sampah pun jadi berharga.

Mimpi saya bisa memiliki game yang terpampang di playstore seperti ini.
Cerita diawali dengan mimpi saya, ingin memiliki aplikasi yang terpampang di Google PlayStore. Walaupun tidak sehebat aplikasi game milik orang terkenal, setidaknya saya bisa memiliki akun yang dapat menerbitkan game milik sendiri. Banyak konsep ide game yang saya buat, namun karena saya bukan seorang programer atau berlatar IT, jadi semua itu hanya memenuhi memori di laptop saya. Saat itu saya berpikir bahwa seseorang yang buta akan coding program akan sulit untuk menciptakan sebuah game, apalagi bermimpi ingin memublikasikannya di media terkenal seperti Google PlayStore.

Situs yang mewujudkan impian saya.
Hingga kemudian, tanpa sengaja saya menemukan sbuah situs yang isinya merupakan pertemuan antara pemimpi, pekerja, dan programmer. Dengan keterbatasan dana, akhirnya saya beranikan diri mendaftar dan menyampaikan konsep ide saya di situs tersebut. Di luar perkiraan saya, begitu banyak programmer IT muda menawarkan jawa dari proyek pekerjaan tersebut, walaupun dana yang saya cantumkan hanya sebatas kemampuan dompet saya.

Diawali dengan konsep game Kereta Api Manual, di mana judulnya saya beri nama “Naufal Train”, di mana Naufal adalah nama anak saya. Saya sangat senang nama anak saya tercantum di barisan game di Google Store. Selanjutnya dengan konsep game Android Predator di peta negara-negara dunia, yang saya beri nama “Bhalalah” atau “Unreal Streets”. Yang membuat saya senang adalah foto keluarga saya terpampang di game tersebut.  

Banyak kendala dalam merealisasikan game ini.
Banyak usaha dan perjuangan telah saya lakukan untuk mendaftarkan game tersebut di Google PlayStore. Beberapa masalah pun muncul, misalnya seringnya terjadi miss-communication atau salah persepsi saat saya menjelaskan konsep ide saya kepada programmer IT yang mengerjakan game tersebut. Khususnya terkait pemahaman saya dengan dunia coding bahasa programmer. Bahkan saya kerap berpura-pura mengerti saja apa yang mereka jelaskan. Apalagi penjelasan saya sering diasumsikan salah dalam coding programmer. Sehingga saya mengerti bila programmer itu sudah sangat kesal dengan konsep yang saya jelaskan. Bisa dibilang sering terjadi miss-communcation di antara saya dan programmer.

Tapi miss-communication juga terjadi dengan media developer Android Google. Karena banyaknya kata pengantar yang saya sampaikan, termasuk bahasa daerah Kalimantan yang ikut muncul dalam pengantar saya, membuat game saya ditangguhkan. Bukan itu saja, game saya bahkan dihapus oleh Tim GooglePlay karena dianggap tidak sesuai dengan peraturan dan kebijakan mereka.

Game saya sempat dihapus.
Rasa kecewa dan patah hati menyerang saya. Sumpah serapah pun terucap dalam hati ini kepada Tim Google Developer. Meski begitu saya bangkit lagi untuk tetap menyelesaikan misi saya memiliki game sendiri, membuktikan saya juga bisa punya aplikasi sendiri. Saya lantas mencoba berkomunikasi dengan Tim Google Developer mengenai kondisi yang sebenarnya. Bagusnya, Tim Google menjelaskan di mana letak kesalahan saya dalam memublikasikan sebuah game. Ternyata bukan masalah baik atau tidaknya sebuah game, melainkan penyampaian pesan game itu yang harus diperbaiki dan saya diminta membuat nomor ID game baru. Penjelasan Google ini lantas saya jabarkan kembali pada programmer game saya untuk bisa diimplementasikan. Saat ini saya yakin kalau dia pasti akan kembali menggerutu.

Beberapa kali pergantian nama game karena adanya penangguhan dan penghapusan oleh Tim Google Developer tentunya membuat saya kebingungan memberikan nama baru untuk game ini. Ditambah lagi ribetnya mesti menyampaikan hal ini kepada programmer IT dengan bahasa akunting saya. Judul awal game saya ini adalah “Unreal Streets Game” atau disingkat U.S.G. Kemudian saya ganti dengan bahasa daerah Banjar menjadi “Balalah Bungas Banjang” atau disingkat B3. Dan yang sekarang ini setelah penghapusan di Google Store saya ubah menjadi “Wonderful Bhalalah”.

Akhirnya saya memiliki game saya sendiri di playstore.
Saya sangat senang akhirnya orang yang buta IT dengan latar staf akunting seperti saya ini telah memiliki game sendiri di Google PlayStore. Bahkan foto-foto dari seluruh keluarga saya menjadi bagian dari game ini. Meskipun tidak ada orang yang mengunduhnya, game ini sudah memberikan rasa bangga pada saya, di mana sekarang saya memiliki game keluarga yang rancang sendiri.

Lantas, bagaimana cara mengoperasikan game tersebut? Ini perlu saya sampaikan karena keluarga saya yang ada di Kalimantan bingung setelah menhunduh game tersebut di android dan menanyakan cara memainkannya. Yang membuat keluarga saya tertarik adalah foto-foto yang bergerak disana adalah foto-foto mereka. Saya lantas membayangkan bagaimana bila game ini bisa dimainkan secara online, pasti banyak gamer tertarik untuk bermain dan kejar-kejaran di dalamnya.

Apa kalian tertarik memainkan game ini? Bila begitu, unduh gamenya terlebih dahulu di Google PlayStore, alamatnya di: https://play.google.com/store/apps/details?id=id.escape.balalah

***

TENTANG ARIFALDI
Googke+: Rif Saranzana.
Bio singkat: Akhmad Rifaldi atau disingkat Arifaldi, adalah seorang karyawan salah satu perusahaan akunting di Jakarta. Selain melakoni sibuknya aktivitas pekerjaannya, pria asal Kalimantan ini masih menyempatkan diri mempelajari teknik-teknik pembuatan video game.

 *****

CUMAGAMER SHARE!!!
Ingin berbagi kisah pengalaman video game seperti ini? Baca petunjuknya di sini.

No comments:

Post a Comment

Designed By