Berita Terkini

CumaGamer.com

Terbaru

Berita

Artikel

Unik

Daftar Terbaik

Game Terfavorit

Monday, March 21, 2016

Review: Chasing Dead

PENGALAMAN HORROR YANG GAGAL

FPS bertema horor Chasing Dead kurang mendapat polesan secara keseluruhan, hasilnya adalah permainan yang lambat dan juga memusingkan, ditambah lagi masalah grafis yang aneh.
 
Secara umum bila bicara mengenai Wii U, konsol ini kerap disebut ditujukan bagi keluarga. Walaupun ada beberapa game yang lebih tepat dimainkan oleh orang dewasa seperti ZombiU, Bayonetta 2, dan Fatal Frame: Maiden of Black Water juga muncul di sistem ini, kebanyakan pegguna Wii U akan lebih memilih menghabiskan waktunya memainkan Mario Kart 8 dan Super Mario 3D World. Ini membuat beberapa developer melihat adanya lubang di pasar konsol ini untuk lebih banyak game-game bertema kekerasan dan bernuansa lebih gelap yang bisa ditemukan di konsol ini.
 

Itulah kenapa Chasing Dead hadir di konsol generasi terkini dari Nintendo ini. Dirilis di Wii U dan juga PC, game ini adalah perpaduan horor dan FPS, yang menjanjikan sebuah FPS berbasis kisah bertema horor. Sayangnya, game ini tidak memanfaatkan kemampuannya secara maksimal dalam menempati posisi unik di Wii U, dengan gagal mengisi minimnya game-game dewasa untuk sistem ini.
 
Awalnya, Chasing Dead terlihat menjanjikan. Walaupun alur game ini meliputi sebuah kisah dari duplikat bumi dan pemberontakan mutan misterius, jadinya malah terlihat kusut. Tapi rupanya bukan hanya itu masalah yang ada dalam game ini. Ada masalah lain di luar yang ada di segi ceritanya.
 
Secara mendasar, game ini terasa kurang digarap dengan benar. Bagi gamer manapun yang mengutamakan bermain dalam framerate yang tinggi, game ini bakal mengecewakan. Aksinya terlihat kikuk dan janggal, dengan motion blur yang membuat pergerakan menjadi sulit, hasilnya adalah memainkan game ini terasa begitu menyulitkan. Rasanya sulit untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, yang tentunya bukan hal bagus dalam game yang membutuhkan reaksi pertarungan cepat.
 
Sayangnya, ini bukan satu-satunya keterbatasan grafis yang dimiliki Chasing Dead. Ya walaupun model-model karakternya terlihat baik, dengan mutan-mutan dalam gamenya hadir di atas standar zombi yang mirip dengan game tahun 2012, ZombiU, semuanya tampak tidak memiliki karakter yang kuat. Lokasi-lokasi dalam game ini, di satu sisi terlihat kurang kreatif. Ya memang lokasi-lokasinya berukuran besar dengan area-area terbuka, namun kekurangan tekstur dan kedalaman dan menjadi begitu membosankan.
 
Saat memainkan game ini kalian mungkin akan menyadari kalian dibawa ke Chernobyl di sepanjang misi-misi permainannya. Latar ini udah digunakan berkali-kali dalam video game, yang paling banyak diingat adalah game tahu 2007, S.T.A.L.K.E.R.: Shadow of Chernobyl, dan sayangnya Chasing Dead tidak berhasil menampilkannya dengan baik. Faktanya, penggambaran untuk versi Wii U sedikit lebih buruk dibandingkan seniornya sembilan tahun lalu tersebut, khususnya ketika bangunan-bangunan terkadang muncul dan menghilang di luar keberadaannya.

Bukan hanya masalah-masalah di permukaan yang dihadapi Chasing Dead. Bersama dengan minimnya kualitas grafis, desain suara dalam game ini juga bisa dibilang buruk. Jagoan dalam game ini, seorang tentara bernama Jake, sesekali mengeluarkan kalimat yang mirip dengan Duke Nukem. Meski begitu, obrolan-obrolannya terkadang melampaui dialog berfokus cerita, dengan Jake terkadang mengganggu dirinya sendiri.
 
Salah satu keputusan menerik dari developer 2020 Venture adalah keputusan menggunakan live acting sepanjang seksi dalam game. User interface Jake bakal sesekali menerima pop-up message dalam bentuk asistensi seorang agen bernama Luna, juga rekaman-rekaman dari tim sebelumnya yang menyelidiki duplikat bumi. Meski begitu, ide ini tidak diimplementasikan dengan baik, di mana beberapa kalimat terasa datar dan perbedaan antara grafis dalam gamenya dan cutscene yang ada terasa sedikit mengganggu. 

Masalah-masalah tadi sebenarnya bisa diatasi dengan kualita gameplay yang ditawarkan. Ya meskipun aksi tembak-menembak dalam Chasing Dead jelas merupakan sebuah peningkatan di atas masalah-masalah desain grafis dan suaranya, rasaya sulit untuk merekomendasikan game ini secara murni dari sudut pandang gameplayt. Menghabisi kerumuman zombi jelas menyenangkan, tapi ya tetap saja ada kekurangan kualitas.


Dikarenakan frame rate yang buruk dan masalah motion blur, pertempurannya sendiri terkadang terasa aneh. AI yang buruk merupakan masalah yang konstan, dengan beberapa musuh terkadang mengambil jalan yang anej dalam mencoba mencapai pemain. Kesulitan yang terasa mungkin bisa ditemukan saat mesti menyerang lawan di bagian kepala, yang terkadang cukup menghindari mutan-mutant untuk mencapai tujuan level. 

Mencapai tujuan-tujuan ini, terkadang terasa sulit dilakukan. Walaupun beberapan level menawarkan pengalaman yang sengit dan menakutkan, seperti membuka level di mana menjatuhkan Jake ke dalam sebuah pesawat yang sedang terbang, ada masalah-masalah dengan minimnya arah dalam lebih banyak level-level terbuka. Kalian bisa berkeliling suatu area tanpa henti, tanpa tujuannya hanya untuk mencoba menemukan objektif berikutnya, tanpa ada perasaan alami yang terlihat dalam serial Left 4 Dead. Penambahan sebuah peta yang sederhana mungkin bisa sedikit membantu, tapi para gamer mungkin bakal menemukan gameplay-nya memusingkan. 


Minimnya peta adalah salah satu dari banyak dasar yang semestinya dihadirkan Chasing Dead saat perilisannya. Beberapa jenis tutorial mungkin akan berguna, di mana kalian akan melupakannya ketika kalian sudah terlanjur masuk ke dalam situasi yang membahayakan. Sementara itu, minimnya pengaturan gameplay adalah hal lain yang perlu diperhatikan, dan tidak mengizinkan pemain mengganti arah pengaturan arah kamera jelas akan sangat menganggu dalam memainkannya.

Mungkin hal paling mengecewakan tentang Chasing Dead adalah bahwa game ini sebenarnya berpotensi menjadi sebuah game yang menyenangkan dengan pengalaman bermain yang menantang. Ceritanya sendiri begitu baik dan menghibur, dan bila lebih banyak polesan dalam cut scene live action, game ini mungkin akan terasa seperti Planet Terror. Sementara itu lokasi-lokasi yang bervariasi mulai dari kota yang ditinggalkan, tundra, dan bahkan padang Afghanistan, menunjukkan bahwa ada sebuah cakupan ambisius yang bisa dimanfaatkan. 


~~DATA GAME~~
JUDUL: Chasing Dead
DEVELOPER: 2020 Venture
PUBLISHER: 2020 Venture
PLATFORM: Wii U, PC
RILIS: 3 Maret 2016
GENRE: First-person shooter
MODE: Single player, Multiplayer
CumaGamer Score: 4 dari skala 10.

Sayangnya, hasil akhir game ini tidak sesuai standar. Dikarenakan kurangnya polesan secara keseluruhan, Chasing Dead jadinya janggal dan lambat, dengan masalah-masalah grafis dan audio yang mesti menjadi perhatian. Mungkin dengan lebih banyak lagi waktu pengerjaan, Chasing Dead bisa jadi sebuah pengalaman yang menyenangkan. Tapi sebagaimana much like Fatal Frame: Maiden of Black Water, Chasing Dead gagal mengantarkan sebuah pengalaman game horor yang kuat untuk Wii U. (cg)

Sumber: Game Rant

No comments:

Post a Comment

Designed By