Berita Terkini

CumaGamer.com

Terbaru

Berita

Artikel

Unik

Daftar Terbaik

Game Terfavorit

Monday, March 28, 2016

Profil Satoshi Tajiri, Sosok Di Balik Pokemon

Nama Satoshi Tajiri mungkin tak banyak dikenal dibandingkan nama tokoh-tokoh video game kenamaan lainnya. Namun bagi para penggemar fanatik Pokemon, dia adalah sang penemu dari ratusan monster unik dan lucu yang begitu populer di dunia. Masih memperingati 20 tahun serial Pokemon, kali ini CumaGamer.com menghadirkan profil singkat Satoshi Tajiri. 

Siapa yang menyangka pria yang lahir 28 Agustus 1965 ini adalah pencipta Pokemon. Dia bertanggung jawab untuk konsep awal yang akan membawa serial Pokemon menjadi populer hingga saat ini. Dia salah satu pendiri Game Freak, studio yang melahirkan game-game Pokemon bahkan sampai sekarang. Di Game Freak sendiri saat ini dia menjabat sebagai CEO. 


Satoshi Tajiri lahir di Machida, sebuah daerah di pinggiran kota Tokyo. Ayahnya adalah salesman mobil Nissan sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Sebagai anak muda, dia suka menjelajah ke lingkungan luar dan begitu tertarik dengan macam-macam serangga. Dia suka mengumpulkan serangga, berburu serangga di kolam, ladang dan hutan. Dia terus mencari serangga-serangga baru dan mencari cara baru untuk menangkap serangga seperti kumbang. Karena ketertarikannya dalam mengumpulkan dan mempelajari serangga sehingga oleh kawan-kawannya dia dijuluki ”Dr. Bug”.

Namun pada akhir 1970-an, ladang dan kolam yang biasanya menjadi tempat favorit Tajiri berburu serangga kala masih anak-anak digusur lantas berganti menjadi apartemen dan pusat perbelanjaan. Tajiri yang sebelumnya menggemari serangga pun memiliki kegemaran baru yaitu video game dan mesin arcade alias dingdong.

Tajiri mengenal game saat dia duduk di sekolah teknik. Dia menghabiskan banyak waktunya untuk bermain game arcade. Saking senangnya dengan arcade, salah satu pusat arcade lokal memberinya sebuah mesin Space Invaders untuk dibawa pulang. Kegemarannya ini lalu membuat orang tuanya kecewa. Menurut orang tuanya, Tajiri telah membuang masa depannya hanya demi video game.

Meski sempat membuat pusing kedua orang tuanya, pada akhirnya Tajiri mampu lulus dari program dua tahun di Tokyo National College of Technology. Oleh sang ayah, dia diarahkan untuk menjadi seorang tukang reparasi peralatan listrik. Akan tetapi menjadi tukang reparasi listrik bukanlah hal yang diinginkannya.
Di tahun 1981, saat dia berusia enam belas tahun, Tajiri memenangkan sebuah kontes konsep desain game yang disponsori pesaing Nintendo, Sega. Setahun kemudian, di tahun 1982, Tajiri dan kawan-kawannya membentuk sebuah majalah game yang diberi nama Game Freak. Dia menyusun majalah tersebut bersama Ken Sugimori, temannya yang dan juga merupakan kontributor Game Freak. Di kemudian hari, Ken Sugimori menjadi ilustrator dan desainer utama dari semua gambar Pokemon, karakter manusia, dan aspek-aspek lain dari game tersebut. 

Tajiri muda dengan game pertamanya, Quinty.
Sepanjang tahun 1981, majalah Game Freak mengalami penjualan yang lumayan dan menjadi populer di jagad video game. Pada awalnya majalah tersebut ditulis tangan dan diperbanyak dengan menggunakan fotokopi. Karena semakin populer bahkan terjual sebanyak 10 ribu kopi, Tajiri menjadikan majalah itu dicetak secara profesional. Harganya berkisar 300 yen atau sekitar $3 dan rata-rata berisi 28 halaman.

Rasa ingin tahu yang besar terhadap video game membuat Tajiri tertarik untuk membuat video gamenya sendiri. Apalagi menurut dia, pasar video game akan semakin lebih baik di masa depan. Dia lalu belajar bagaimana cara membuat software game. Dia membongkar konsol Nintendo Entertainment System (NES) untuk melihat bagaimana cara kerja konsol rumahan pertama buatan Nintendo itu lantas mempelajari bagaimana cara membuat programnya. Program pertama yang digunakannya adalah Family BASIC, implementasi bahasa program BASIC untuk Famicom.

Pada tahun 1987, Tajiri menerbitkan game pertamanya yang berjudul Quinty. Game ini dibawa Hudson ke Amerika Utara dengan judul Mendel Palace untuk konsol NES. Dua tahun kemudian, dia secara resmi mendirikan perusahaan game bernama Game Freak, yang dinamai seperti majalahnya. Tajiri dan Game Freak kemudian berlanjut mengembangkan banyak judul untuk berbagai macam perusahaan seperti Nintendo dan Sega. Judul-judul yang pernah dia kerjakan di antaranya Jerry Boy dan Yoshi di tahun 1991, Mario & Wario di tahun 1993, dan Pulseman untuk Mega Drive di tahun 1994. Berkat game Jerry Boy (Smart Ball), Tajiri memenangkan penghargaan desain karakter dari Multimedia Content Association of Japan.

Pada tahun 1990, Tajiri menerbitkan sebuah buku berjudul  Catch The Packland — Stories of Videogames from Youth. Buku itu berisi enam belas cerita mengenai kenangan-kenangan Tajiri memainkan game arcade ketika dia di sekolah menengah dan universitas. Buku itu diterbitkan oleh Pusat Kebudayaan dan Informasi Jepang. Tahun ini merupakan tahun di mana dia mulai melihat konsep tentang Pokemon.

Saat itu Tajiri melihat dua orang anak sedang bermain Game Boy bersama-sama menggunakan link cable. Dia lantas membayangkan serangga-serangga merayap melintasi kabel di antara kedua sistem tersebut. Menyadari kemampuan link cable, ide tentang Pokemon pun muncul di kepalanya. Dia ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak modern untuk bisa berburu berbagai macam makhluk seperti yang dia lakukan dulu.

Ide Pokemon itu lalu ditawarkannya kepada Nintendo. Walaupun tidak terlalu mengerti dengan konsep permainan yang ditawarkan Tajiri, Nintendo memberikannya modal awal dan konsep kerja dari studio desain game lainnya, Creaturues, Inc.. Bersama studio inilah Tajiri menghabiskan enam tahun berikutnya untuk mengerjakan Pokemon. Shigeru Miyamoto yang merupakan pencipta game Mario dan The Legend of Zelda lantas ditugaskan untuk membantu Tajiri dalam pengembangan versi awal Pocket Monster, Red & Green.

Selama masa pengembangan tersebut, Tajiri mengagumi Miyamoto dan menganggapnya sebagai mentor. Sebagai penghargaan kepada Miyamoto dan Tajiri, karakter utama dalam game Pokemon Red & Green beserta rivalnya diberi nama “Satoshi” dan “Shigeru” di antara beberapa nama default lainnya. Nama mereka berdua juga digunakan untuk serial animasinya di Jepang.

Setelah melewati enam tahun pengembangan, Pokemon Red & Green pun selesai dikerjakan dan dirilis untuk Game Boy. Konsep dan gameplay yang unik membuat game ini banyak disukai para gamer khususnya anak-anak dan segera saja menjadi begitu populer. Padahal, saat itu konsol Game Boy mulai ketinggalan jaman. Kehadiran Pokemon membuat Game Boy kembali dilirik anak-anak. Pokemon Red & Green lantas dibawa ke luar Jepang dengan judul Pokemon Red & Blue.

Mendapat kesuksesan yang besar, Pokemon lantas diadaptasi dalam beragam bentuk media di luar game di antaranya komik, serial animasi, dan film bioskop. Tajiri dan Game Freak pun terus menelurkan sekuel dari game ini sampai sekarang. Namun Satoshi Tajiri hanya terlibat langsung pada dua generasi pertama game ini yaitu Pokemon Red & Blue dan Pokemon Gold, Silver, & Crystal. Pada game-game tersebut dia berperan sebagai director, game designer, scenario writer, dan map designer. Sejak Pokemon Ruby & Sapphire dia bertindak sebagai Executive Director dari setiap game utama Pokemon yang dirilis.

Satoshi Tajiri mengakui dirinya menderita Asperger Syndrome.
Posisinya yang tidak lagi terlibat langsung dengan desain game-game Pokemon dan sikapnya yang low-profile membuatnya kurang dikenal di industri video game saat ini. Dia kalah populer bila dibandingkan desainer Pokemon lainnya seperti Junichi Masuda. Bahkan, banyak pihak yang salah sangka mengira wajah Satoshi Tajiri dengan wajah CEO The Pokemon Company, Tsunekazu Ishihara. Agar sahabat gamer tidak salah, wajah Satoshi Tajiri sebenarnya adalah sebagaimana yang ditayangkan dalam tulisan ini. 

Kurang dikenalnya Satoshi Tajiri di kalangan Satoshi Tajiri pernah mengakui bahwa dia menderita asperger syndrome yang menurutnya ikut berperan dalam kreativitasnya. Terkait hal ini, Nintendo mendefinisikan Tajiri sebagai seseorang yang sangat kreatif, mendekati ‘penyendiri’ dan ‘eksentrik’,  dua gejala umum penderita asperger syndrome. Dalam sebuah wawancara dengan majalah TIME, Tajiri mengatakan dia tidur selama 12 jam dan mengerjakan gamenya selama 24 jam non-stop. Kata dia, jadwal yang tidak teratur membantunya memikirkan ide-ide baru untuk game buatannya.

Poliwag
Lantas, dari semua makhluk Pokemon yang diciptakannya, yang mana yang menjadi favoritnya? Bukannya Pikachu, Tajiri justru menyebut Poliwag beserta garis evolusinya sebagai Pokemon favoritnya. Kata dia, lingkaran di perut Poliwag sebenarnya adalah usus Pokemon tersebut. Dia mendesain Poliwag seperti itu berdasarkan fakta bahwa organ dalam kecebong bisa terlihat apabila kecebong itu ditangkap dan diteliti. 

Itulah tadi sedikit profil mengenai bapak penemu Pokemon, Satoshi Tajiri. Bagaimana menurut sahabat gamer? Menarik sekali kan kisahnya? Satoshi Tajiri mungkin takkan mengira ya konsep buatannya bakal menjadi begitu populer bahkan menjadi ikon budaya pop dunia yang bertahan sampai sekarang. Sukses selalu deh buat Satoshi Tajiri! (cg)

No comments:

Post a Comment

Designed By