Berita Terkini

CumaGamer.com

Terbaru

Berita

Artikel

Unik

Daftar Terbaik

Game Terfavorit

Saturday, December 19, 2015

Kenapa Rocket League Menjadi yang Terbaik

CUMAGAMER SHARE: KISAH GAMER EDISI#3


Rocket League adalah salah satu game yang membuat kejutan di tahun 2015. Jurnalis game dari GameRant, Dalton Cooper mengisahkan apa yang membuat game ini begitu populer dan kenapa dia mendaulat game ini sebagai game terbaik alias Game of the Year versi dirinya.

Mendekati akhir 2015, saya melihat kembali game-game terbesar di tahun 2015, menerka-nerka game apa yang pantas saya pilih sebagai Game of the Year. Apakah itu The Witcher 3: Wild Hunt, yang begitu kaya, dunia yang digambarkan begitu penuh, dan penceritaan yang menakjubkan? Apakah itu Bloodborne, dengan nuansa seram dan pertarungan yang begitu sulit namun memuaskan? Apakah Batman: Arkham Knight, yang menghadirkan pengalaman Batman terbaik kepada para pemainnya? Atau apakah Fallout 4, dengan cakupan besar dan berjam-jam hiburan yang dihabiskan saat menjelajah Boston pasca kiamat? Jawaban singkatnya adalah ‘bukan’. Game of the year versi saya adalah Rocket League.


Rocket League benar-benar muncul tanpa diduga, dirilis sebagai judul gratis untuk member PlayStation Plus di penghujung Juli, dan sejak itu terusk menikmati kesuksesan yang luar biasa. Saya bahkan tidak pernah mendengar game pendahulunya, yang sayangnya berjudul Supersonic Acrobatic Rocket-Powered Battle Cars, dan saya mengunduhnya hanya karena game ini gratis. Sedikit yang saya ketahui mengenai game ini kala itu, tanpa menyangka bahwa saya mengunduh game yang bakal paling banyak saya mainkan dibandingkan game-game lain di tahun 2015.


Saat pertama kali memainkan Rocket League, saya tidak berharap terlalu banyak dari game ini. Nyatanya, saya memperkirakan game ini bakal biasa saja dan segera membosankan dalam waktu cepat. Lima jam lantas berlalu, tapi saya masih terpaku ke layar TV, berkata pada diri saya, “Satu pertandingan lagi” terus-menerus. Saya belum pernah kecanduan game seperti ini dalam beberapa tahun terakhir, dan hal ini mengingatkan saya kembali kenapa saya begitu menikmati video game.

Tapi apa yang membuat Rocket League menjadi game yang hebat? Saya pikir karena kesederhanaannya. Ya, saya sangat menikmati waktu yang saya habiskan dengan game-game yang besar dan kompleks seperti Fallout 4, tapi ada terkadang ada yang membuat saya kelelahan memainkan game-game sejenis ini setelah memainkannya sebentar. Rocket League, di satu sisi, tidak perna terasa membosankan, dan ketika saya berhenti memainkannya, saya selalu merasa bersemangat. Menang atau kalah, saya merasa senang dengan Rocket League. Saya tidak pernah merasa frustrasi, dan itu adalah hal yang di luar kebiasaan, bila seorang pemain yang mahir menghancurkanku dengan skor 27 – 0 dalam sekali mainan saja.

Konsep Rocket League yaitu ‘sepak bola dengan mobil’ bisa didefiniskan sesederhana mungkin, jadi siapapun bisa mengambil kontroler dan akan segera merasa nyaman dengan game ini. Segalanya begitu efisien dan didesain dengan baik, sehingga para pemainnya bakal segera beraksi secepat mungkin. Satu-satunya waktu yang benar-benar terbuang ada pada menu Rocket League ketika melakukan kustomisasi kendaraan atau menentukan apakah perlu membawa mobil Delorean dari film Back to the Futire ke pertandingan berikutnya atau tidak. Matchmaking alias penjadwalan pertandingan terjadi begitu cepat, dan hal itu tidak mengherankan, mengingat game ini sudah diunduh sebanyak 5 juta kali hingga saat ini, dan memunculkan komunitas pemainnya yang begitu besar.


Developer Psyonix mungkin dalam hal ini mesti berterima kasih pada layanan berbayar dan DLC gratisan, yang membantu tetap mempertahankan komunitas pemainnya tetap tertarik. DLC gratisan meliputi tambahan-tambahan signifikan pada gamenya, seperti stadion-stadion baru dan juga mutator yang mengubah cara orang memainkan Rocket League. DLC berbayar meliputi ragam battle car terbaru, dengan DLC berbayar berikutnya, Chaos Run esxpansions menambahkan dua kali mobil yang lebih banyak pada daftar kendaraan yang sudah komplet.

Rocket League menjadi menakjubkan dikarenakan kesederhanaannya, dan fokusnya pada gameplay yang menyenangkan, tempo cepat lebih banyak dibandingkan yang lainnya. Rocket League dinominasikan untuk tiga penghargaan dalam The Best Game Awards 2015, meliputi Best Independent Game, Best Sports/Racing Game, dan Best Multiplayer yang dimenangkan semuanya kecuali Best Multiplayer yang disabet Splatoon. Dan semestinya game ini juga dinominasikan sebagai Game of the Year. Apakah game ini memiliki budget sebesar game-game populer lainnya di 2015? Tidak, tapi saya yakin Psyonix bisa melakukan lebih banyak dengan Rocket League meski minim pendanaan. Di luar dari semua game hebat yang rilis tahun ini, Rocket League adalah satu-satunya yang saya sangat yakin masih akan saya mainkan di tahun 2016.

**********
 
TENTANG DALTON COOPER
Bio singkat: Dalton Cooper adalah seorang jurnalis game yang bekerja di situs GameRant. Dia kerap menyajikan berita-berita terkini dari dunia video game di situs game tersebut.


 *****

CUMAGAMER SHARE!!!
Ingin berbagi kisah pengalaman video game seperti ini? Baca petunjuknya di sini.

No comments:

Post a Comment

Designed By