Berita Terkini

CumaGamer.com

Terbaru

Berita

Artikel

Unik

Daftar Terbaik

Game Terfavorit

Saturday, September 26, 2015

Asia Tenggara, Pasar Potensial untuk Game Mobile

Perkembangan video game di perangkat mobile semakin pesat dari waktu ke waktu. Salah satu penyebabnya adalah bentuknya yang praktis, mudah dimainkan di mana saja dan kapan saja, terutama untuk mengisi waktu luang. Nah, rupanya Asia Tenggara termasuk Indonesia telah menjadi pasar potensial untuk platform ini. Berikut ini analisis Jacob Stempniewicz, member Gamasutra yang diterjemahkan oleh CumaGamer.com untuk sahabat gamer Indonesia.

Kenapa Asia Tenggara? 
Sahabat gamer pasti bertanya-tanya kenapa Asia Tenggara kini menjadi perhatian bagi para pengembang video game internasional. Asia Tenggara merupakan sebuah wilayah dengan luas sekitar 4,5 juta kilometer persegi, hampir setara setengah ukuran negara Amerika Serikat. Negara-negara yang berada di kawasan ini terbagi dalam dua kelompok, yaitu negara-negara Maritim di antaranya Indonesia, Malaysia bagian timur, Singapura, Filipina, Timor Timur, dan Brunei Darussalam, serta negara-negara daratan utama yang dikenal dengan istilah Indochina, di antaranya Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Malaysia bagian barat.
Di abad 20, negara-negara ini mengalami pergolakan kondisi ekonomi dan politik yang beragam, tapi secara keseluruhan negara-negara di kawasan ini mengalami perkembangan yang pesat. Lebih dari satu dekade, rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Tenggara mencapai lebih dari lima persen setiap tahunnya. Bila Asia Tenggara adalah sebuah negara, maka bisa jadi kawasan ini menjadi negara dengan ekonomi terbesar kesembilan di dunia.
Kawasan ini sekarang bisa dibilang telah mendapatkan status pasar signifikan bagi negara-negara maju. Prospek pertumbuhan ekonomi, populasi yang besar, dan peningkatan kecepatan konektivitas internet, terutama di perangkat mobile, semuanya bermuara pada pertumbuhan solid bagi industri game untuk tahun-tahun mendatang. Ditambah lagi, Asia Tenggara termasuk kawasan yang lebih mudah diakses oleh perusahaan-perusahaan asing dibandingkan negara-negara potensial lainnya seperti Tiongkok atau Rusia.

Asia Tenggara juga menarik perhatian untuk satu alasan lagi. Banyak perusahaan Jepang, Korea, dan Tiongkok yang tidak terlalu sukses menguasai pasar game di dunia barat kini mengalihkan perhatian mereka ke Asia Tenggara yang notabene lebih dekat dalam hal geografi dan juga budaya. Di saat bersamaan, perusahaan-perusahaan barat telah menyadari potensialnya wilayah Asia Tenggara dan membangun perwakilan mereka serta menghadikan konten yang dilokalkan. Asia Tenggara telah menjadi salah satu ‘medan tempur’ utama untuk game-game mobile, khususnya sejak pasar lokal belum terbagi-bagi di antara para gamer di masing-masing negara kawasan ini
Kenapa game mobile?

Berdasarkan data dari Newzoo, pasar mobile global telah mencapai US$ 24,5 milyar di tahun 2014, mengikuti tingkat pertumbuhan sebesar +33% dan +57% masing-masing untuk smartphones dan tablet. Pertumbuhan ini diperkirakan bakal berlanjut di tahun-tahun berikutnya, dengan pasar mobile meningkat lebih dari US$ 40 miliar pada 2017. Meski penjualan tablet baru-baru dilaporkan mengalami penurunan, pendapatan game di tablet bertumbuh lebih cepat dibandingkan smartphones, memosisikan platform ini sebagai perangkat game kunci.
Tingkat pertumbuhan yang tinggi ini didukung pula oleh pertumbuhan organik pada keseluruhan pasar, yang berpengaruh pada segmen lainnya. Pertumbuhan mobile ini menjadikan platform game lainnya mengalami penurunan, di antaranya konsol handheld/portabel, game kasual online dan game di jejaring sosial. Newzoo juga mencatat tanda-tanda melambatnya pertumbuhan game-game PC online dan MMO yang kini beralih ke perangkat mobile.

Mobile kini diperkirakan menjadi segmen game terbesar dilihat dari sisi pendapatan di tahun 2015. Game mobile terus bertumbuh di sisi jumlah pemain dan pendapatan lintas region. Peningkatan pada para gamer yang membayar dan waktu yang dihabiskan untuk bermain game berkontribusi pada pasar barat. Sementara meningkatnya konektivitas online, penetrasi smartphone dan ketersediaan konektivitas 3G dan 4G berdampak pada pasar-pasar yang mulai muncul, seperti Asia Tenggara

Game Mobile di Asia Tenggara

Game mobile telah mendominasi Asia Tenggara. Pada 2015, pendapatan game mobile sudah hampir mencapai setengah dari US$ 1,4 miliar pasar game Asia Tenggara. Pada 2017, pendapatan mobile sendiri diprediksi mendekati US$ 1,3 miliar, bertumbuh pada CAGR impresif (2013-2017) sebesar +56%. Di balik pertumbuhan ini tak lepas peran peningkatan kecepatan konektivitas internet mobile di sepanjang kawasan ini.
Enam negara di Asia Tenggara berperan besar dalam pembagian keuntungan pasar game mobile kawasan ini. Enam besar ini di antaranya Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam. Populasi di enam negara ini hampir mencapai 90% dari total keseluruhan populasi Asia Tenggara. Kebanyakan populasi di kawasan ini terdiri dari kaum muda, dengan jumlah mayoritas, atau mendekati demografi usia pekerja. Hal ini berperan dalam keuntungan masa kini dan masa mendatang dalam ekonomi dunia.
Jumlah pendapatan di pasar game Asia Tenggara diperkirakan bakal berlipat ganda menjadi US$ 2,2 miliar pada 2017. Thailand akan tetap menjadi pasar terbesar dalam hal pendapatan game di Asia Tenggara, disusul ketat oleh Indonesia dan Malaysia. Pendapatan di Singapura akan berlanjut tumbuh tapi akan kehilangan bagian pasar dengan negara-negara yang berkembang cepat. Vietnam dan Thailand akan tumbuh bersamaan dengan keseluruhan pasar, mempertahankan bagian pasar mereka.
Bermain game adalah salah satu penggunaan paling populer pada perangkat mobile di kawasan ini. Survei dari Google mengindikasikan bahwa lebih dari sepertiga pengguna smartphone di masing-masing enam negara besar tersebut bermain game minimal sekali dalam semingguh terakhir. Kepopuleran game mobile gaming di kawasan ini tercermin pada iOS App Store dan Google Play, khususnya bila dibandingkan dengan Korea Selatan, salah satu pasar taplikasi terbesar dan paling potensial di dunia. Pada Desember 2014, jumlah unduhan game di Indonesia telah mencapai sekitar 90 persen dari total unduhan di Korea Selatan. Vietnam, negara dengan jumlah unduhan terendah di kawasan ini, jumlah unduhannya telah setengah jumlah unduhan Korea Selatan.
Sementara jumlah unduhan tinggi, pendapatan app store masih tetap pada tingkat pertumbuhan paling awal, sebagaimana tampak di chart kedua.
Menarik dicatat bahwa pendapatan app store tersebut hanya sebagian saja dari keseluruhan peluang game mobile di negara-negagara ini. Para penerbit biasanya menggunakan media periklanan dan pendekatan lain atau strategi berdasar subsidi untuk menambah pendapatan langsung dari game-game yang berasal dari in-app purchases/gratis, unduhan berbayar, dan in-app advertising. Pembagian antara IAP dan periklanan bertumbuh lebih lebar lagi ke arah periklanan.

Beberapa penerbit melangkah lebih jauh dengan menawarkan mata uang dalam game (in-game currency) sebagai imbalan untuk melihat iklan. Seperti Korea Selatan, Malaysia dan Thailand merupakan pasar game PC online Asia sejak tahun 2000, di mana orang-orang lebih terbiasa membayar untuk bermain game online. Juga, berdasarkan serangkaian riset yang digelar di awal pertengahan 2014 oleh Euromonitor, pendapatan tahunan dan penetrasi kartu kredit lebih tinggi di Malaysia dan Thailand lebih dari tiga pasar lainnya. Baik kesediaan dan kemampuan untuk membayar di Malaysia dan Thailand mungkin saja memicu pendapatan game mobile yang lebih baik di dua negara ini.

Game Mobile di Asia Tenggara Meroket Tinggi

Menarik untuk diperhatikan bagaimana pasar Asia Tenggara berkembang begitu cepat. Kombinasi unduhan game pada iOS dan Google Play di Vietnam, Malaysia, Filipina, Thailand dan Indonesia tumbuh 45% dari tahun 2013 ke 2014. Vietnam tercatat dengan tingkat pertumbuhan tertinggi, meningkat 95% lebih pada periode ini. Diikuti Indonesia dengan peningkatan 85%. Filipina dan Thailand mengalami pertumbuhan yang lumayan sekitar 25%, sementara pertumbuhan unduhan di Malaysia stabil sebagaimana pasar matang seperti Korea Selatan dan Jepang.
Meroketnya penetrasi smartphone merupakan pemicu utama dari peningkatan unduhan ini. Berdasarkan data eMarketer, penetrasi smartphone di Indonesia tumbuh dari 13,8% ke 21,3% antara 2013 dan 2014, dan diperkirakan mencapai 26,3% pada 2015, yang artinya menjangkau lebih dari 60 juta konsumen. Senada, Global Connected Consumer Study 2014 mengklaim bahwa 36% dari populasi Vietnam saat ini memiliki smartphone, hampir berlipat ganda dibandingkan rekor tahun sebelumnya. Secara historis, Indonesia dan Vietnam berada di bawah Malaysia dan Thailand dalam matrik ekonomi, berkontribusi pada penetrasi PC dan internet dengan kualitas rendah di negara-negara tersebut.

Smartphones dan internet lebih transformatif pada tipe pasar seperti ini karena mereka lebih terakses bahkan pada pengguna dengan pendapatan rendah yang belum mampu mengakses infrastruktur jaringan yang dikembangkan lebih baik. Game mobile mendorong pertumbuhan aplikasi dengan menyediakan bentuk hiburan yang menarik dan menghasilkan, di mana para pengguna dapat mengaksesnya kapanpun dan di manapun.

Menariknya, pendapatan mengalami pertumbuhan yang bhkan lebih imprsif. Bila lima pasar Asia Tenggara ini digabungkan, jumlah pendapatan game mobile di iOS dan Google Play hampir berlipat ganda dari 2013 ke 2014. Vietnam dan Malaysia mengalami tingkat pertumbuhan tertinggi, masing-masing pada 150% dan 115%. Bahkan Thailand, dengan tingkat pertumbuhan paling rendah di antara kelima negara, pendapatan game mobile-nya meningkat dengan mengagetkan hingga 75%.

Perbedaan Antarnegara

Sepanjang dekade terakhir, kondisi ekonomi dan infrastruktur telekomunikasi yang berbeda memainkan peran penting dalam membentuk penetrasi perangkat komputer dan akses internet di pasar Asia Tenggara tengah berkembang. Hasilnya, para pengguna mengembangkan perilaku dan preferensi aplikasi dan telepon yang berbeda-beda. Negara-negara yang kurang berkembang seperti Indonesia dan Filipina kurang mendapat perhatian dari penerbit-penerbit aplikasi. Model dan tren pada game mobile di negara-negara ini secara garis besar terpengaruh oleh pasar barat, dengan alur dari Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.
Di Indonesia, game-game yang populer secara global seperti Clash of Clans dan Candy Crush Saga menempati posisi 5 dari 10 teratas dari segi pendapatan, dan 7 teratas dari segi unduhan pada December 2014. Di Filipina, para pemimpin pasar global, menduduki bagian lebih tinggi: 6 dari 10 teratas dari segi pendapatan dan tujuh teratas dari segi unduhan. Meski begitu, tidak seperti di Jepang atau Korea Selatan, Supercell dan King tidak bergantung pada periklanan TV dan kampanye luar ruangan untuk menjaring pengguna dan naik peringkat. Sepertinya pertumbuhan pada lima pasar Asia Tenggara yang tengah berkembang ini lebih organik. Di Indonesia dan Filipina, pengguna dijaring menggunakan saluran iklan otomatis seperti Facebook.

Biru: Game Global/Western
Kuning: Game Asia-Pacific
Ungu: Game Lokal Asia Tenggara
Hijau: Game LINE Games
Yang terjadi di Vietnam, Thailand dan Malaysia berbeda bila dibandingkan Indonesia dan Filipina. Kondisi ekonomi dan infrastruktur yang lebih baik di negara-negara ini menjadikan penetrasi lebih tinggi untuk akses PC dan internet, yang menjadi pondasi bagi game-game online PC. Selama dekade terakhir, perusahaan-perusahaan game dari Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan memasuki pasar-pasar ini dengan membangun perwakilan atau melisensi produk-produk game gamenya pada partner lokal.
Pada December 2014, game RPG atau strategi dengan konten Asia seperti Summoners War, Dot Arena dan Castle Clash menempati posisi 5 dari 10 game teratas dari segi pendapatan di Malaysia, posisi 4 di Thailand, dan posisi 6 di Vietnam. Indonesia dan Thailand mencatat persentase pembayar terbesar, hampir 50% dari jumlah pemain yang menghabiskan uang pada game mobile. Sementara Singapura memiliki persentase terendah pada gamer mobile yang membayar.

 Platform pesan dan game online

Aplikasi pesan telah berkembang pesat dalam melayani para pemirsa layanan game dan online di Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Tren ini telah menjadi bukti di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir. Klien Andovar, LINE merupakan pemimpin pasar di kawasan ini. Di Malaysia, Indonesia dan Thailand, LINE menempati posisi #1 dari segi pendapatan di antara aplikasi bukan game pada Desember 2014, dan juga berada dalam daftar 20 besar chart unduhan. 

Di Filipina dan Vietnam, bahkan meski LINE tidak masuk 10 besar unduhan terbanyak, aplikasi ini tetap mencapai 10 besar pendapatan tertinggi. WeChat, yang membuat progres signifikan di Malaysia, bisa jadi pesaing aplikasi pesan baru di negara ini. Meski ada aplikasi pesan populer lainnya di kawasan ini seperti Viber, Facebook Messenger dan BBM, LINE adalah satu-satunya yang sukses membangun daftar game yang didukungnya. Meski begitu, dalam pasar Asia Tenggara lainnya, platform pesan masih berada dalam tahap awal dari siklus hidup mereka. Ketika aplikasi-aplikasi ini telah mencapai level pengguna tertentu dalam efek jaringan, mereka bisa menggulirkan game-game dan layanan-layanan lainnya pada basis penggunanya.

Aplikasi pesan dari barat juga berharap bisa mereguk untung dalam tren ini dengan aplikasi populer seperti Viber dan Tango yang mengintegrasikan game-game ke dalam platform mereka. Tango, yang mendapatkan investasi US$ 215 juta dari Alibaba di 2014, telah memiliki lebih dari 250 juta pengguna terdaftar dan juga daftar game yang banyak, baik buatan pihak dalam maupun buatan pihak ketiga. Berdasarkan informasi dari perusahaan ini, game-game di platform Tango memiliki 2 sampai 3 kali lebih banyak nilai tawar dibandingkan game-game yang sama di platform lain. Pada Februari, Viber menyediakan layanan game mereka pada sekitar 236 juga pelanggan bulanan aktif mereka, diikuti kesuksesan dua bulan percobaan pada lima negara Asia Tenggara. Bagaimana perbandingan dari negara-negara di kawasan ini? 
Membandingkan Antarnegara

Menyadari permintaan untuk game-game mobile, banyak penerbit game-game PC dan konsol dari Asia mengalihkan prioritas mereka pada segmen mobile. Di saat bersamaan, komunitas investor berlanjut memberikan uang tunai ke dalam pasar dan mengembangkan perusahaan-perusahaan untuk mendominasi pasar mobile. Persaingan di sektor game mobile begitu ketat di Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan, memotivasi para penerbit untuk mencari peluang-peluang segar. Asia Tenggara bisa jadi perbatasan berikutnya, dan game-game dibuat untuk memimpin pertumbuhan ini sebagaimana telah terjadi di wilayah lain. Asia Tenggara bertumbuh lebih cepat dibandingkan kawasan-kawasan berkembang lainnya seperti Amerika Latin dan Eropa Timur, sebagaimana tergambar di bagan berikut.
Sementara Tiongkok merupakan pasar yang sangat atraktif dan memiliki karakter pertumbuhan tinggi dan populasi yang besar, Asia Tenggara mungkin lebih mudah dimasuki oleh penerbit-penerbit game mobile dari barat. Alasannya adalah minimnya kompetisi, peraturan, dan penyebaran saluran-saluran distribusi seperti Google Play dan iTunes App Store. Setengah daftar game dengan pendapatan tertinggi di Asia Tenggara dikuasai judul-judul barat. Game-game barat merupakan yang paling terkenal di Filipina, dengan persentase 65% dari game-game teratas. Hanya 35% dari game-game teratas di Thailand berasal dari barat, menjadikan Thailand sebagai negara dengan persentase terendah di antara enam besar negara Asia Tenggara. King dan Supercell sejauh ini merupakan penerbit barat paling dominan, dengan kemunculan di setiap peringkat 20 teratas.
Asia Tenggara juga memiliki preferensi yang sama dengan barat dalam hal jejaring sosial. Sebanyak 95% pengguna jejaring sosial mobile atau aplikasi chat di Vietnam aktif di Facebook. Persentase terendah pengguna Facebook di kawasan ini adalah Indonesia, dan masih setinggi pada 78%. Twitter and Instagram juga populer, dengan mall Siam Paragon dari Thailand merajai daftar global dari lokasi-lokasi di Instagram pada 2013.

Android atau iOS?

Pada lima pasar teratas Asia Tenggara yaitu Vietnam, Malaysia, Filipina, Thailand dan Indonesia, Android mengungguli iOS dalam basis instal perangkat. Kombinasi pembelian rendah di kawasan ini dan distribusi langsung smartphone berpihak pada perangkat Android yang harganya relatif terjangkau. Pada 2014, Google Play mencatatkan lebih dari empat kali unduhan game mobile dibandingkan di iOS App Store pada gabungan lima negara Asia Tenggara. Perbedaan terbesar terjadi di Indonesia, di mana unduhan Google Play sebanyak sembilan kali lebih besar dari iOS. Perbedaan terendah terjadi di Vietnam, di mana Google Play tiga kali lebih banyak dibandingkan iOS. 
iOS mempertahankan keunggulannya dalam hal pendapatan game dan 1,3 kali dibandingkan Google Play pada lima pasar tersebut bila digabungkan. Di Thailand, Vietnam, Indonesia dan Filipina, keunggulan iOS App Store berkisar antara sekitar 1,3 kali sampai 2 kali. Malaysia adalah satu-satunya negara di mana pendapatan pendapatan Google Play tidak mampu membuntuti iOS App Store pada 2014. Dari segi pertumbuhan dari tahun ke tahun, Google Play tumbuh lebih cepat dibandingkan iOS pada 2014 baik dalam jumlah unduhan dan pendapatan. 

Pada lima pasar Asia Tenggara tersebut bila disatukan, pertumbuhan unduhan Google Play meningkat sebanyak 65% pada 2014, secara substansi melampaui iOS. Sementara, pendapatan Google Play tumbuh sekitar 220% dan pendapatan iOS tumbuh 45%. Pertumbuhan Google Play dimulai dari titik basis yang lebih rendah bila dibandingkan iOS pada 2013, tapi mengalami peningkatan impresif hanya dalam waktu satu tahun.

Pada Februari 2015, Google merilis perangkat Android One di Filipina dan Indonesia, menjanjikan lebih banyak jalan bagi Andorid. Android One adalah satu set smartphone standar yang didesain khusus bagi para konsumen di negara berkembang, dengan fokus utamanya pada orang-orang yang membeli smartphone pertama mereka. Smartphone Android One beroperasi dengan layanan mobile Google dan bisa dibangun pada desain hardware yang disediakan oleh Google. Keterlibatan langsung Google dalam standardisasi software dan hardware semestinya mengurangi biaya riset dan pengembangan yang dilakukan perusahaan dan membantu menciptakan ponsel yang lebih dapat dijangkau, yang merupakan kunci dari pertumbuhan pasar smartphone di ekonomi yang tengah berkembang.

Bahasa Asia Tenggara

Walaupun semua negara di kawasan ini familiar dengan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional dan kebudayaan populer, faktanya kecakapan terhadap bahasa ini bervariasi pada setiap negara. Di Singapura dan Filipina, bahasa Inggris adalah bahasa resmi kedua. Di Malaysia, bahasa Inggris adalah bahasa aktif kedua, sementara negara-negara lain di Asia Tenggara menggunakan bahasa Inggris sebatas konteks bisnis. Di Tiongkok, di sisi lain, penetrasi bahasa Inggris masih di bawah 1%. Indeks kecakapan berbahasa Inggris di bawah ini menunjukkan perbedaannya secara lebih jelas.
Sementara banyak gamer di Malaysia dan Singapura bakal senang dengan versi bahasa Inggris dari game hadir untuk mereka, hal yang sama belum tentu berlaku juga bagi negara-negara lainnya. Sebagai contoh, Thailand adalah salah satu pasar terbesar dan paling menjanjikan, tapi kalah jauh dengan tetangganya dalam hal kecakapan berbahasa Inggris. Di saat yang sama, pelokalan bahasa ke dalam bahasa Thai jauh lebih sulit dibandingkan penerjemahan ke bahasa-bahasa barat, atau bahkan Tiongkok atau Jepang dikarenakan sistem penulisan yang kompleks. Hal yang sama berlaku bagi bahasa Lao, Kamboja, dan Myanmar, yang memiliki kesulitannya masing-masing. Dengan kantor-kantor di Singapuran dan Thailand dan bertahun-tahun pengalaman dengan bahasa-bahasa Asia Tenggara, Andovar dapat memberikan saran dalam kaitan pendekatan terbaik dan memastikan kesuksesan pelokalan ke dalam bahasa kawasan ini.
Kesimpulan

Game mobile turut berperan dalam pertumbuhan ekonomi aplikasi secara global. Pada Desember 2014, game-game turut berkontribusi sebanyak 80% dari keseluruhan pendapatan dan 40% dari semua unduhan di iOS dan Google Play. Di Tiongkok, Jepang, dan Korea Utara, pasar aplikasi terbesar di Asia, game mobile telah menjadi pijakan utama. Kami percaya bahwa Asia Tenggara secara khusus merupakan pasar menarik untuk dimasuki oleh game mobile karena:

-    Games sudah menjadi kategori aplikasi mobile terbesar di Asia Tenggara. Walaupun pendapatan game mobile saat ini mungkin tidak besar, tapi terus meningkat pada level yang mengagumkan.
-    Pertumbuhan game mobile yang mengejutkan pada 2014 di Asia Tenggara. Unduhan game di Google Play dan App Store menanjak hingga hampir 50%, dengan beberapa negara menunjukkan pertumbuhan pendapatan melebihi 100%.
-    Masih ada peluang yang luas di kawasan ini dengan populasi yang haus hiburan yang siap menikmati game hit berikutnya, dan peluang matang bagi platform distribusi game.
-    Pasar-pasar Asia Tenggara lebih mudah dimasuki oleh para penerbit internasional dibanding negara-negara potensial lainnya, seperti Rusia atau Tiongkok.
Sahabat gamer, memang tak bisa dimungkiri bila Asia Tenggara telah menjadi pasar potensial bagi game mobile. Sebagaimana yang terlihat di negara kita sendiri, Indonesia. Tentunya kita semua berharap Indonesia dapat memainkan peran yang lebih strategis dalam industri ini, bukan sekadar menjadi konsumen. Setuju? (cg)

Sumber: Gamasutra, AppAnnie, Newzoo
Diterjemahkan oleh Lukman Maulana

No comments:

Post a Comment

Designed By